Oleh: Arief Munandar, SE, ME
“Good is the enemy of great”, demikian Jim Collins mengawali buku larisnya, Good to Great (2001) yang konon telah terjual lebih dari 2 juta kopi. Mengapa tidak banyak hal hebat dapat ditemukan dalam kehidupan kita – sekolah, perusahaan, penulis, aktor, pemimpin, dan bahkan negara – adalah karena sebagian besar dari kita sudah cukup puas dan bahagia ketika berhasil mencapai tingkatan “baik”, lalu kita berhenti berupaya menjadi lebih baik untuk mencapai tingkatan “hebat”.
Padahal saat ini, dan apalagi di masa yang akan datang, good is never good enough. Tantangan eksternal selalu mencengangkan kita dengan percepatan yang fantastis, bahkan lompatan-lompatan eksponensial yang membelalakkan mata, sehingga tidak menyisakan jeda bagi kita untuk sekedar menghela nafas dan memvisualkannya secara sempurna di alam pikiran kita. Speed, speed, speed, and innovation sudah menjadi sekadar prasyarat minimum untuk bertahan hidup. Dalam tutur bermetafora dikatakan, “Whether you’re a lion or a gazelle, when sun comes up you’d better be running!”
Peta dunia yang kian kabur, terorisme yang tiba-tiba menjadi kosakata yang akrab dengan keseharian kita, pemanasan global yang berhasil dipromosikan sebagai momok bersama, demokrasi dan demokratisasi sebagai “dewa penyelamat” dan juga “malaikat pencabut nyawa” banyak bangsa di dunia, peran media yang makin tak jelas antara agen perubahan dan agen pembodohan, adalah beberapa “headline” di halaman muka “suratkabar” yang bernama “Warta Dunia”. Konstelasi persainganpun berubah secara revolutif, menghasilkan bukan lagi winner dan loser, namun winner dan victim, pemenang dan korbannya. Jujur saja, sebagai bangsa kita mungkin adalah salah satu korban itu.
Bangsa Indonesia memang terlampau menggiurkan untuk tidak menjadi salah satu sasaran tembak utama: posisi super-strategis dalam konteks interaksi bangsa-bangsa, jumlah penduduk (=pasar) yang fantastis dengan tingkat pendidikan dan kualitas pola pikir yang sedang-sedang saja, sumber daya alam melimpah dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi alakadarnya, birokrasi yang luar biasa koruptif, kesenjangan antar-strata sosial dan antar-wilayah yang parah, dan lebih dari segalanya, merupakan komunitas Muslim terbesar di dunia. Maka, kata John Perkins, jadilah kita salah satu cerita sukses the economic hit team negara adidaya, dan bukannya tidak mungkin akan disusul oleh the Jackals and his invasion.
Telah menjadi ketetapan suci, bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu bangsa hingga bangsa itu mengubahnya dengan tangan mereka sendiri (QS. Ar Ra”d: 11). How we think is how we act, is who we are. Kualitas pola pikir kita, sebagai individu dan sebagai bangsa, akan tercermin dalam kualitas perilaku kita, dan pada akhirnya menentukan siapa kita: winner atau victim.
Kata kuncinya adalah sebuah transformasi, perubahan yang bertempat jauh di dalam lubuk hati bangsa ini, yang sebenarnya sudah digaungkan sejak puluhan tahun yang lalu: “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya”. Sebuah rekonstruksi modal spiritual bangsa, yang mengantarkan kita pada jawaban teramat mendasar atas pertanyaan: who are we? Suatu perjuangan menemukan dan membangun kesejatian diri: shared-meaning, shared vision, dan shared-values, yang akan membuat bangsa ini tidak tersesat dan kemudian hilang tertelan gelombang globalisasi sebagai the era of crisis of meaning (Danah Zohar).
Berlakulah sunatullah yang lain: dalam dunia kita transformasi tidak pernah dimulai oleh segerombolan besar manusia. Ia selalu menjadi inisiatif segelintir pejuang saja. Sebagaimana di bab-bab awal kisah perjuangan Nabi Muhammad Saw mewartakan kembali risalah langit kepada manusia yang sudah luluh berkubang dalam lumpur jahiliyah, tercatat hanya beberapa nama pendukung sejati. Atau sebagaimana Nabi Isa As yang teguh menyuarakan firman-firman Allah hanya ditemani oleh dua belas murid setianya (hawariyyin). Walaupun memang setelah bola salju transformasi itu cukup padat dan besar, ia mampu menggelinding cepat, kian kencang, dan akhirnya tak terbendung melindas apapun yang menghalangi jalannya. “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima Taubat” (QS. An Nashr: 1-3).
Sekelompok kecil inisiator transformasi itu adalah leaders, para penyeru kebenaran, yang berani berdiri tegak melawan arus besar masyarakatnya. Yang tekun mengambil bongkah demi bongkah salju, menyatukannya, memadatkannya, dan mencoba mulai menggelindingkannya. Yang dengan sabar terus berupaya membuat bola salju baru, ketika bola sebelumnya ternyata tercerai berserakan sebelum sempat membesar dan menggelinding jauh. Pertanyaan yang paling mendasar adalah: Do we have that quality? Are we the selected ones? Are we the leaders?
Atau, have we decided to be leaders? Pertanyaan itu menjadi begitu fundamental dan substantif karena kita berangkat dari keyakinan dasar bahwa seorang pemimpin tidaklah dilahirkan, sebagaimana pemimpin juga tidaklah diciptakan dalam semalam. Kita juga berpijak pada premis bahwa menjadi pemimpin adalah sebuah pilihan, dan membangun kepemimpinan adalah perjalanan sepanjang hayat. Has each of us made decision to be leader?
Decision diturunkan dari kata dasar to decide yang berasal dari dua kata bahasa Latin: de (=from) dan caedere (=to cut), sehingga makna kata memutuskan (to decide) adalah “berkomitmen untuk mencapai suatu hasil tertentu, dan pada saat yang sama menolak semua kemungkinan yang lain”. Sebuah keputusan memfokuskan seluruh energi dan sumberdaya untuk mencapai sebuah visi, cita-cita, atau output tanpa kompromi untuk menerima the second best, the third best, dan seterusnya. Sebuah keputusan tidak menyediakan privilege untuk gagal, sebagaimana Laksamana Tariq bin Ziyad menitahkan pasukannya untuk membakar seluruh perahu sesaat sesudah mereka merapat di daratan yang hendak ditaklukkan. Dia tak hendak menyisakan sedikitpun rasa aman jika kemenangan yang diinginkan gagal diraih. Keputusan Tariq bin Ziyad itu menghilangkan kemungkinan otak berpikir, “Toh kita masih bisa pulang ke negeri asal jika gagal menaklukkan negeri ini”, sehingga winning is the only choice.
Dengan kata lain, the true decision akan “memaksa” otak dan pikiran kita bekerja optimal, up to the limit, bahkan break the limit, untuk menemukan jalan how to achieve the goals. Sebuah keputusan sejatinya merupakan refleksi prasangka baik pada Allah, bahwa Dia akan memberikan jalan untuk mencapai sebuah cita-cita, betapapun hebatnya itu, manakala seluruh daya sudah kita kerahkan dengan optimal, sebagaimana firmanNya, “Dan orang-orang yang berjihad (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat ihsan” (QS. Al Ankabuut: 69). Sehingga pada gilirannya, sebuah keputusan akan menggerakkan keajaiban, miracle, berupa pertolongan Allah yang tak dapat dibendung oleh halangan apapun. Jadi, kesimpulannya, perjalanan menjadi a great leader dimulai dengan membuat keputusan untuk menjadi pemimpin yang hebat.
Mengapa? Apa motivasinya? “Nilai sebuah perbuatan sesungguhnya ditentukan oleh niatnya,” demikian petikan Hadits Nabi yang sudah sangat akrab di telinga kita. Niat akan menentukan apakah kita ini “manusia lumba-lumba”, “manusia anjing”, atau manusia sejati. Dalam atraksi, lumba-lumba diperintahkan oleh pelatihnya untuk memeragakan berbagai keterampilan seperti melompati lingkaran api, memainkan bola dengan moncongnya, dan lain-lain. Namun setelah dua-tiga kali beraksi, lumba-lumba itu akan kelelahan, dan motivasinya pun mulai meredup. Sang pelatih tentunya mahfum bahwa peliharaannya membutuhkan ”doping motivasi” berupa ikan-ikan kecil kesukaannya. Setelah menyantap ikan-ikan kecil itu, si lumba-lumba kembali bersemangat menjalankan titah pelatihnya. Itulah hakikat ”manusia lumba-lumba”, orang yang ingin menjadi pemimpin karena iming-iming materi di depannya, pemimpin yang menurut konsepsi Danah Zohar menjadikan modal materialnya sebagai pondasi dari bangunan motivasinya. Rapuh! [bersambung]
—————————–
Rangkaian tulisan pak arief tentang kepemimpinan ini merupakan salah satu tulisan favorit saya.. tunggu seri tulisan berikutnya ya.. ^_^
dikutip dari situs ppsdms dot org