Since Good Leaders Are Not Good Enough (Bagian 2)

Oleh: Arief Munandar, SE, ME

Pemilik anjing biasa membawa anjingnya untuk bermain-main di taman atau lapangan yang luas. Sang tuan memperlihatkan sepotong tulang-tulangan, biasanya terbuat dari kayu atau plastik, kepada anjingnya. Si anjing pun mengendus-endus benda itu. Kemudian sang tuan melemparkan tulang-tulangan itu jauh-jauh. Anjing melihat sang tuan, dan iapun mengerti apa yang harus dilakukannya. Dikejarnya tulang-tulangan itu, digigitnya dengan moncongnya, dan kemudian ia berlari kembali ke arah tuannya, dan menjatuhkan benda itu di kaki tuannya.

Sambil mengambil tulang-tulangan itu, sang tuan mengusap-ngusap dan menepuk-nepuk kepala peliharaannya dengan hangat dan berkata, ”Good dog! Good dog!” Si anjing sumringah, mengibas-ngibaskan ekornya, sambil menyalak kecil. Ketika tuannya kembali melemparkan tulang-tulangan itu, si anjing mengejarnya dengan semangat lebih menggebu. Sudah terbayang dalam pikirannya, pujian ”good dog” yang sudah menunggu di ujung perjuangannya.

Itulah sejatinya ”manusia anjing”, yang ingin menjadi pemimpin karena memaknainya – sadar ataupun tidak – sebagai peluang untuk memperoleh tepukan di pundak, tepuk tangan meriah dan puja-puji, serta penghargaan, atau paling tidak ucapan terimakasih yang disampaikan dengan mata berbinar penuh kekaguman dari para pengikutnya. Sejatinya ”manusia anjing” adalah orang yang menjadikan modal sosial mereka sebagai sumber motivasinya. Ini juga rapuh!

Motivasi ala lumba-lumba dan motivasi ala anjing bukan saja sangat rapuh, tak seberapa panjang umurnya, dan tak seberapa kuat daya dorongnya, namun juga menempatkan kita pada posisi tergantung terhadap faktor-faktor eksternal. Ketika senang-susahnya kita, bahagia-menderitanya kita, kuat-lemahnya motivasi kita, diserahkan pada lembar-lembar rupiah atau apresiasi dari orang lain, bukankah kita sudah merendahkan martabat kemanusiaan kita sendiri? ”Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama dengan lurus …” (QS. Al Bayyinah: 5).

Dalam konteks membangun diri menjadi pemimpin, sekedar motivasi materi atau social relationship tidak akan mampu mengantarkan seseorang menjadi great leader, atau Pemimpin Tingkat 5, baik pada model John Maxwell, maupun Jim Collins. Motivasi ala lumba-lumba akan membuat langkah kita berhenti segera sesudah menapakkan kaki di jenjang pertama, yaitu sekedar menjadi manajer, bukan pemimpin (leader) yang memberi perintah dan perintahnya diikuti oleh anak buah karena mereka tak punya pilihan lain. People follow because they have to. Pada saat kita termotivasi hanya oleh uang, maka hanya uang pula yang tersedia bagi kita untuk menggerakkan orang lain. Stick and carrot. Bisa dibayangkan ketika kita tak lagi dalam posisi formal, ketika kita tak lagi bisa memainkan ”tongkat dan wortel”, kita menjadi nobody.

Motivasi ala anjing, yang basisnya social capital, mungkin relatif lebih baik, walaupun juga tidaklah cukup baik. Motivasi jenis ini mendorong kita membangun hubungan yang hangat, dekat, dan diwarnai cinta kasih dengan orang-orang yang kita pimpin, sehingga mengantarkan kita pada jenjang kedua, people follow because they want to. Namun mengapa tetap tidaklah cukup baik? Karena perhatian, kebaikan, dan cinta itu sering kita curahkan, mungkin secara tidak sadar, karena kekhawatiran ditinggalkan oleh para pengikut. Dampaknya, senyuman mereka, tepuk tangan mereka, sorak-sorai mereka dan dukungan mereka, sering kita jadikan kriteria dalam menilai keberhasilan suatu keputusan atau tindakan. Dalam posisi ini kita tak akan pernah mampu mengambil unpopular decision, walaupun sebenarnya itulah yang dibutuhkan, dan bahkan pilihan terbaik bagi para pengikut dan organisasi kita, karena kita takut kehilangan hubungan yang hangat itu. Artinya, jangankan menjadi great leader, menjadi effective leader-pun tidak.

Kita menapaki jenjang ketiga manakala modal kepemimpinan kita adalah results. People follow because what we have achieved. Prestasi sering membuat para pengikut kagum pada kita, sehingga menjadi relatif lebih mudah mempengaruhi mereka mengikuti kita. Artinya, pemimpin yang pintar dan kompeten punya peluang lebih besar untuk menggerakkan orang lain. Namun, kepintaran dan kompetensi bukan jaminan bahwa seseorang dapat menjadi great leader. Jika modal kita hanya kepintaran dan kompetensi, lalu apa jadinya jika suatu hari ada seorang pengikut yang lebih pintar dan lebih kompeten disbanding kita. Ada dua kemungkinan. Pertama, kita akan berupaya keras menyingkirkan dia, karena kita tak mau pamor kita redup. Atau kedua, kita akan tersingkir dari singgasana kepemimpinan kita.

Pintu menuju great leader mulai terkuak pada saat kita menapaki jenjang keempat, people development, di mana people follow because what you have done for them. Rasa percaya diri yang proporsional membuat kita berfokus pada pengembangan para pengikut, sehingga merekapun pada gilirannya mampu menjadi leader seperti kita. Di jenjang keempat ini kita telah bergerak jauh melampaui batas-batas peran sekedar sebagai atasan (manager). Bahkan juga bukan sekedar guru. Kita berperan sebagai pelatih yang membantu para pengikut untuk menemukan, dan kemudian mengaktualkan, potensi hebat yang terpendam dalam diri mereka, seorang coach yang yakin bahwa “We cannot teach people anything. We can only help them to discover it within themselves (Galileo Galilei).

Motor penggerak apa yang mampu mendorong kita menguak pintu keempat tersebut? Tak lain sebuah keyakinan, conviction, “Yang terbaik di antara kamu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi manusia” (Al Hadits). Ketika keinginan memberi manfaat bagi orang banyak sudah sedemikian kuat, sehingga membendung kecintaan pada materi dan kerinduan pada tepuk tangan penghargaan, di saat itulah pemimpin sejati, true leader, dilahirkan.

Kerasulan adalah amanah kepemimpinan tertinggi yang pernah diemban oleh seorang manusia, yang misinya adalah transformasi paling mendasar: menghentikan perbudakan antar-manusia yang menistakan dan mengembalikan mereka pada penghambaan kepada Allah yang memuliakan. Adalah sebuah keniscayaan bahwa dibutuhkan kualitas pemimpin hebat (great leader) untuk mengemban misi pemanusiaan manusia yang paling hakiki tersebut. Sehingga sejarah kemudian mencatat bagaimana Muhammad bin Abdullah terlebih dahulu dinobatkan menjadi Sang Terpercaya (Al Amin) sebelum dilantik oleh Allah sebagai pembawa risalah-Nya, dan beralih predikat menjadi Muhammad Sallalahu ‘alailihi wassalam.

Al Amin adalah representasi dari kualitas pemimpin jenjang kelima, pemimpin yang mempengaruhi dan menggerakkan pengikutnya dengan bermodalkan personhood, kualitas pribadi, sehingga, people follow because of who you are and what you represent. Kemampuan pemimpin jenjang kelima untuk membangun trust and respect, rasa percaya dan rasa hormat, tsiqah, dari para pengikutnya, membuat ia memiliki energi tak terbatas untuk membongkar keyakinan dan nilai-nilai lama, dan kemudian menghujamkan keyakinan serta nilai-nilai baru. Kualitas kepemimpinan jenjang kelima menjadi modal kita untuk menjalankan peran paling mendasar dari setiap pemimpin di muka bumi ini, yaitu membangun shared-meaning, shared-vision, dan shared-values, yang membuat para pengikutnya berpandangan dan bereaksi sama terhadap tantangan eksternal dan dinamika internal, mensinergikan daya upaya dan sumber daya mereka untuk mewujudkan visi bersama, serta membangun koridor sikap dan perilaku yang diterima dengan penuh keikhlasan. Pemimpin jenjang kelima berperan sebagai solidarity maker yang mampu memaksimalkan resultan positif dari berbagai vektor yang bekerja dalam organisasinya.

Dari sudut pandang lain, Collins menggambarkan kombinasi yang seolah-olah paradoksal antara kegigihan profesional (professional will) dengan kerendahan hati personal (personal humility) sebagai karakter yang melekat pada pemimpin jenjang kelima. Bekerja luar biasa keras untuk mencapai hasil yang luar biasa hebat, namun berjuang dalam kesunyian, menghindari puja-puji, apalagi membual. Mengedepankan kualitas, dan tak mau berkompromi dalam hal capaian, dalam kondisi betapapun sulitnya, namun tidak mengeksploitasi karisma pribadi untuk menggerakkan pengikutnya. Menetapkan standar yang luar biasa tinggi untuk mencapai organisasi yang hebat, namun secara sangat serius menyiapkan para penerus yang lebih baik, karena ia tak berambisi sama sekali untuk mempertahankan posisinya. Menisbatkan setiap kesuksesan pada orang lain, namun menjadikan setiap kegagalan sebagai tanggungjawab pribadi yang harus dipikulnya.

Dalam konteks PPSDMS, pemimpin jenjang kelima adalah pemimpin yang teguh dan ikhlas, pelari maraton yang tak pernah habis nafasnya, tak pernah putus langkahnya, sebelum visi, “Terbentuknya Indonesia yang lebih baik dan bermartabat serta kebaikan dari Allah, Pencipta alam semesta,” mewujud dalam realita. [bersambung]

source: ppsdms dot org

———————-

Leader = who knows the way, shows the way, and goes the way.. ^_^

Ungkapkan pendapat Anda

Anda harus Teridentifikasi untuk menuliskan komentar.