Arsip untuk Januari 29, 2009

Since Good Leaders are Not Enough (bagian 11)

Arief Munandar, SE, ME

Posisi paradigma manajemen bagi seorang pemimpin dalam menghadapi tantangan lingkungan strategis dapat dianalogikan seperti posisi senjata bagi seorang prajurit di medan tempur. Dalam pertempuran, semangat memang diperlukan, namun peluang menang tentunya menjadi tipis manakala musuh memiliki teknologi persenjataan jauh di atas kita. Bambu runcing, pekik merdeka, dan teriakan Allahu Akbar konon kabarnya memang manjur menggetarkan pasukan penjajah di masa perjuangan merebut kemerdekaan dahulu. Namun bagaimana jika senjata yang sama masih kita gunakan menghadapi kecanggihan persenjataan intercontinental balistic misile (rudal antarbenua) yang digunakan oleh musuh-musuh kita hari ini. Setali tiga uang pula dengan nasib seorang mahasiswa yang kuliah di PTN favorit dengan tingkat persaingan yang tinggi, namun masih menggunakan strategi belajar sama yang digunakan pada saat SMA. Dalam konteks inilah Peter Drucker berujar di tahun 1991: “The greatest danger in times of turbulence is not the turbulence. It is to act with yesterday’s logic.” Situasi turbulensi, gonjang-ganjing lingkungan yang hebat, menjadi berbahaya bukan semata-mata karena skala goncangan yang ditimbulkannya, melainkan karena kita masih memaksakan diri membaca, memahami, dan kemudian menghadapinya dengan paradigma masa lalu. Artinya, bukan situasinya yang berbahaya, melainkan pola pikirnya. How you think is who you are. Sebagai contoh, banyak elit daerah di berbagai tingkatan, gagap menghadapi era otonomi daerah saat ini. Mereka masih menggunakan paradigma penguasa. Salah satu dampaknya, timbul semangat luar biasa untuk pemekaran daerah, baik provinsi maupun kabupaten/kota, tanpa mempertimbangkan pemerataan upaya-upaya pembangunan, proximity (kedekatan pemimpin dengan rakyat yang dipimpin), ketersediaan sumber daya daerah (termasuk sumber-sumber pendapatan asli daerah) yang memungkinkan calon wilayah administratif baru tersebut menghidupi dirinya secara mandiri, sering dikesampingkan. Kembali ke manajemen sebagai paradigma berpikir. Agar tak mati konyol di kancah persaingan global, mari kita lihat dulu peta paradigma manajemen yang ada. Yang paling primitif namanya Management by Doing. Jargonnya, just do it yourself. Sejarahnya, “manajemen tanpa manajemen” ini digunakan di masa-masa awal peradaban manusia. Pada saat itu, orang bercocok tanam, membuat pakaian atau barang-barang lain, sekedar untuk mencukupi kebutuhan dirinya dan keluarganya. Bisa dibayangkan pada masa ini ragam kebutuhan masih sangat sederhana, sesederhana teknik produksi yang diketahui dan dipraktikkan manusia. Lalu cara manusia berproduksi mengalami evolusi. Mungkin kita masih ingat dengan istilah “gilda,” yaitu kumpulan pengrajin sejenis yang melakukan proses produksi di bengkel-bengkel kerja. Para pengrajin ini adalah “empu” di bidangnya, relatif tidak ada yang lebih pintar dibandingkan yang lain, sehingga lebih tepat jika dikatakan mereka bekerja bersama-sama, bukan bekerjasama. Nyaris tidak ada aturan formal, apalagi “komandan.” Jadi hampir tidak berbeda dengan era sebelumnya, di era gilda ini hampir tidak dibutuhkan manajemen, dan jargonnya masih “kerjakan saja oleh dirimu sendiri.” Sekarang mari kita tinggalkan zaman primitif tersebut dan melompat kembali ke masa kini, abad 21, era nano-teknologi yang hiperkompleks. Bayangkan jika seorang pemimpin masih berkeras mengerjakan segala sesuatunya sendiri. Saya jadi teringat pengalaman ketika masih bekerja di sebuah Konsultan Manajemen. Salah satu klien kami saat itu adalah perusahaan yang memproduksi peralatan militer. Orang nomor satu di perusahaan itu waktu itu punya latar belakang ahli teknologi militer, khususnya kendaraan perang lapis baja semisal tank dan panser, dan dia terkenal sangat mencintai bidang keahliannya itu, terlalu mencintai bahkan. Akibatnya, setiap pihak militer, yang merupakan klien utama perusahaan itu, mengirimkan kendaraan perang untuk servis berkala, overhaul, atau reparasi, sang CEO dipastikan akan menghilang dari kantornya selama berminggu-minggu karena dia “nyungsep” ke bawah tank atau panser tersebut, menangani langsung seluruh proses yang harus dilakukan. Memang seorang pemimpin tertinggi sekalipun kadang-kadang harus turun tangan untuk memastikan bahwa orang-orang yang dia pimpin dan organisasinya berjalan sebagaimana mestinya, atau jika terjadi kondisi tidak biasa atau darurat. Misalnya, di masa-masa awal organisasi bergerak, ketika sistem sedang dibangun dan orang-orang sedang dididik untuk bekerja sebagai sebuah tim. Bisa juga situasinya ketika beberapa anggota tim terkapar sakit, sehingga pemimpin harus menggantikan peran mereka. Di luar kondisi-kondisi tersebut, pemimpin punya peran dan tugasnya sendiri, yang seringkali hanya akan berhasil dilakukan dengan baik jika ia sedikit berjarak dengan proses teknis-operasional sehari-hari. Dia harus menjamin bahwa budaya organisasi yang berkembang (das sein) memang sesuai dengan nilai-nilai yang diharapkan (das sollen). Pemimpin juga harus mampu mengidentifikasi potensi ancaman yang jauh-jauh hari harus diantisipasi dan potensi peluang yang sejak dini harus dieksplorasi. Bahkan kadang-kadang dia harus menyendiri, merenung untuk menemukan jawaban paling jujur dari sebuah pertanyaan sederhana namun sangat mendasar: “Are we still on the right track?” Bagaimana bisa peran-peran itu dilaksanakan jika pemimpin tenggelam dalam keruwetan masalah teknis di lapangan? Di sinilah wisdom menjadi kata kunci, sehingga seorang pemimpin mampu menempatkan diri di posisi pertengahan, dan tidak membiarkan dirinya terjebak oleh paradoks keinginan menjadi sempurna dan kepercayaan untuk memberi ruang kreatif bagi orang-orang yang dipimpinnya. [bersambung]

Komentar bertahan »

Since Good Leaders are Not Enough (bagian 10)

Arief Munandar, SE, ME

Pada suatu siang, Fulan, seorang Sales Manager dari sebuah hotel bintang lima di Jakarta dipanggil oleh atasannya, Director of Sales and Marketing (DoSM). Pangkal masalahnya, selama satu semester terakhir Fulan tidak mencapai target penjualan, baik kamar maupun function (penjualan ruangan untuk event) yang menjadi tanggung jawabnya. Setelah menguraikan target versus capaian Fulan, ibu DoSM meminta tanggapan – lebih tepatnya pertanggungjawaban – dari anak-buahnya tersebut. Jawaban Fulan kurang lebih, “Bu, saya tahu target yang dibebankan pada saya tidak tercapai. Masalahnya, target itu terlalu tinggi, Bu. Tidak realistis. Sebenarnya target itu tidak terlalu sulit untuk dicapai jika saya punya tim yang lebih baik. Coba saja Ibu bayangkan, dari lima orang Sales Executive yang berada di bawah saya, 2 orang masih baru, bahkan statusnya masih dalam masa percobaan. Satu orang belum lama jadi anak buah saya. Alasan pemindahannya pun karena dia tidak perform di bawah pimpinan atasannya yang lama. Satu orang lagi spesialis menangani klien-klien lama yang nilai sales-nya tidak pernah meningkat dari tahun ke tahun. Dengan kondisi seperti itu bagaimana Ibu bisa mengharapkan saya berhasil mencapai target yang ambisius itu?”

Apa pendapat Anda tentang argumentasi yang dikemukakan Fulan? Logiskah? Selintas tampaknya begitu. Jika diringkas argumentasinya kurang lebih: Fulan gagal mencapai target penjualan karena tidak dibekali dengan sumber daya, dalam hal ini SDM, yang memadai. Namun jika ditilik dari rambu-rambu manajemen, paling tidak terdapat tiga “pelanggaran serius,” dua di antaranya menyangkut rambu-rambu yang telah kita bahas di dua bagian tulisan sebelumnya, satu menyangkut rambu terakhir yang akan kita elaborasi dalam tulisan ini. Agar tidak kehilangan jejak mari kita ulang kembali rambu-rambu manajemen yang sudah kita bahas. Rambu-rambu tersebut adalah: [1] proses, [2] sistematik dan logis, [3] tujuan yang ditetapkan sebelumnya (pre-determined goals), dan [4] secara efektif dan efisien.

Rambu pertama yang dilanggar Fulan adalah pre-determined goals. Tujuan (bisa juga disebut sasaran, target, keluaran, hasil, dan lain-lain) yang ditetapkan sebelum dimulainya proses merupakan tolok ukur keberhasilan suatu proses manajemen. Seseorang yang memiliki paradigma manajemen yang sehat, yang berpikir menggunakan manajemen, sadar dan menghayati betul jargon yang sangat populer dari Covey: Put end in mind, selalu memulai dengan tujuan dalam pikiran kita. Dengan demikian, dia akan “berkelahi” (baca: berdebat, adu argumentasi) dalam proses merumuskan tujuan tersebut, namun kemudian dia akan berhenti mempersoalkannya setelah tujuan atau target tersebut ditetapkan, dan memfokuskan seluruh sumber daya yang dimiliki untuk mencapainya. Kalau Fulan dalam cerita di atas mau “ribut” mestinya hal itu dilakukannya enam bulan yang lalu dalam rapat Sales and Marketing Team yang membahas target penjualan satu semester ke depan berikut pembagian tanggung jawab di antara para , bukan pada saat dia dipanggil atasannya karena tidak berhasil mencapai target tersebut.

Selanjutnya, Fulan juga melanggar rambu efektifitas, istilah yang terdengar sophisticated namun makna sesungguhnya sangat sederhana: mampu mencapai tujuan atau target yang telah ditetapkan. Ditakar dengan rambu tersebut, Fulan boleh berdalih apa saja, yang jelas strategi dan taktik yang dilakukannya, cara kerjanya, pemanfaatan sumber daya yang dia lakukan, tidak efektif. Sebagaimana telah diurai pada bagian sebelumnya, karena sudah jelas tidak efektif, menjadi tidak relevan lagi untuk membahas apakah Fulan bekerja dengan efisien.

Lalu, apa rambu ketiga yang dilanggar oleh Fulan? Selain dilakukan secara sistematik dan logis untuk mencapai tujuan atau target yang telah ditentukan sebelumnya dengan efektif dan efisien, suatu proses dapat disebut manajemen jika proses tersebut mendayagunakan secara optimal sumber daya yang ada. Manajemen itu membumi, realistis, berbicara tentang bagaimana secara kreatif menemukan dan mengimplementasikan cara untuk mendayagunakan sumber daya yang ada. Sebaliknya, manajemen tidak berbicara hal-hal seperti: “seandainya saja saya memiliki modal lebih banyak, “ atau “kalau saja kami memiliki waktu yang lebih panjang untuk melakukan tugas ini,” atau “alangkah senangnya jika kita memiliki anggota tim yang lebih banyak dan lebih kompeten.” Pengandaian-pengandaian seperti itu sama sekali tidak bermanfaat dalam upaya mencapai tujuan. Sayangnya, itulah yang dilakukan Fulan dalam cerita di atas tadi dengan mengatakan, “Sebenarnya target itu tidak terlalu sulit untuk dicapai jika saya punya tim yang lebih baik.”

Karena sudah terlanjur banyak mengupas kasus Fulan sang Sales Manager sebagai contoh, mari kita kembali sejenak kepada bagian-bagian awal tulisan ini. Mungkin Anda masih ingat diskusi kita tentang karakteristik pemimpin sejati yang oleh Collins maupun Maxwell disebut sebagai Leader Level Five. Collins merumuskan karakter dasar pemimpin sejati tersebut adalah memiliki a paradoxal combination antara professional will (ambisi profesional yang sangat kuat) dengan personal humiliation (kerendahan hati yang luar biasa sebagai pribadi). Salah satu aspek penting dari kombinasi paradoksal tersebut adalah kemampuan sang pemimpin untuk “melihat ke dalam cermin,” bertanya “what’s wrong with me” ketika menghadapi kegagalan, dan bukannya “melihat ke luar jendela,” berkilah, “the enemies are out there.” Dari tolok ukur ini jelaslah bahwa Fulan belum memiliki kualifikasi sebagai pemimpin sejati. Modalnya sangat jauh dari cukup untuk mampu membangun rasa hormat dan percaya (trust and respect) dari orang-orang yang dia pimpin dan lingkungan sekitarnya (atasan, teman-teman sejawat, dan lain-lain).

Apa yang kurang dari Fulan? Kemampuan membangun trust and respect adalah irisan dari dua lingkaran, yaitu kompetensi dan kredibilitas. Dari cerita di atas kita patut menduga bahwa kompetensi fulan sebagai Sales Manager cukup rendah. Paling tidak dapat dipastikan dalam hal ini dia tidak istimewa dan bukan yang terbaik. Namun yang paling parah adalah ketidakmampuan dia membangun diri menjadi pemimpin yang credible. Mengapa? Dari tiga pilar kredibilitas, yaitu kejujuran, integritas, dan loyalitas, yang nyata-nyata tidak dia miliki adalah kejujuran dan loyalitas. Fulan tidak cukup jujur untuk mengakui kelemahan dia sebagai Sales Manajer yang memimpin suatu Sales Team pada kesempatan pertama. Mungkin saja jika Ibu Director of Sales and Marketing, atasannya, kemudian membombardir Fulan dengan lebih banyak dan fakta mengenai kinerjanya yang di bawah standar, pada akhirnya dia akan mengakui kelemahannya. Namun pengakuan itu lebih merefleksikan keterpaksaan ketimbang kejujuran. Sebagai seorang Sales Manager juga jelas bahwa Fulan bukanlah seorang atasan yang loyal. Seorang atasan yang loyal akan menegur bawahannya yang berbuat kesalahan, bahkan mungkin dengan keras, namun ke luar dia akan mengatakan, “Saya Fulan. Saya yang bertanggung jawab atas kegagalan ini.” Jika Fulan tidak segera memperbaiki kualitas dasarnya sebagai manusia dengan mudah diduga bagaimana nasibnya di manapun dia bekerja: tidak dihargai oleh atasan, dicemooh rekan sejawat, dan yang paling parah, dibenci dan dimusuhi oleh bawahan. Akhirnya, bolehlah saya berharap, semoga kita tidak serendah Fulan. [bersambung]

Komentar bertahan »

Since Good Leaders are Not Enough (bagian 9)

Oleh: Arief Munandar, SE, ME

Saya punya suatu kepercayaan sederhana mengenai pemimpin dan kepemimpinan. Bagi saya, kualitas kepemimpinan seorang pemimpin diukur dari karya, bukan orasi atau wacana, walaupun kemampuan berorasi mungkin salah satu skill penting bagi pemimpin. Lihat saja pernyataan Allah SWT di dalam Al Qur-an: “Dan katakanlah: Bekerjalah kamu. Maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” [QS. At-Taubah, 9: 105]

Simak juga peringatan keras Allah SWT di bagian lain dari Kitab Suci-Nya: “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” [QS. Ash-Shaff, 61: 2-3]

Paradigma manajemen yang sehat merupakan modal dasar untuk mampu memimpin perubahan transformasional dengan sukses. Berpikir menggunakan manajemen membuat pemimpin mampu melukiskan peta jalan (road map) perubahan yang akan mengantarkan komunitas yang dipimpinnya dari posisi here and now menuju the future dreamland. Kualitas berpikir manajemen pula yang akan dengan jelas membedakan cita-cita dari sekedar angan-angan, vision dari wish.

Tanpa kemampuan berpikir manajemen banyak pemimpin menjadi tak ubahnya sekedar orator atau filosof, bahkan provokator, yang trampil menuangkan mutiara pemikiran yang progresif-revolusioner dalam kata-kata bernas, baik dalam pidato yang menggelegar maupun tulisan yang menghujam, namun tak kunjung berhasil mewujudkan satupun gagasan hebat dalam realita komunitasnya. Ketika pemimpin model orator-filosof ini berpidato, orang-orang takjub terpana menyimaknya. Hati mereka tergetar. Mereka merasa fatwa-fatwa sang pemimpin mencerahkan pikiran dan menyegarkan semangat. Mereka terbang ke langit impian. Jantung mereka berdegup kencang. Darah mereka menggelora. Rasanya tak sabar lagi untuk menaklukkan dunia. Tapi apa jadinya ketika pidato itu selesai? Ketika mereka harus kembali ke dunia nyata? Saat mereka berhadapan lagi dengan realita yang kelewat jauh dari idealita? Mereka ibarat membentur tembok tinggi, atau bersua dengan jalan buntu, karena sang pemimpin menunjukkan peta jalan menuju negeri impian tersebut. Betul bahwa pemimpin mesti visioner. Namun pemimpin juga harus transformatif, mampu mengurai visi tersebut menjadi sejumlah tonggak antara, seraya berperan sebagai sais yang memacu kuda-kudanya untuk menarik kereta berpindah dari satu tonggak ke tonggak berikutnya, demikian seterusnya, sampai tiba di terminal tujuan.

Di bagian sebelumnya telah kita diskusikan dua rambu yang pertama dalam manajemen, yaitu proses, serta sistematik dan logis. Apakah setiap proses yang tersusun dengan sistematik dan didasarkan atas suatu logika tertentu otomatis dapat disebut sebagai manajemen? Nanti dulu. Belum tentu. Perlu digarisbawahi bahwa pemimpin memanfaatkan manajemen, bukan tenggelam dalam kompleksitas manajemen.

Saya punya seorang teman. Sebut saja namanya Anto. Julukannya Mr. Sisdur, alias Tuan Sistem dan Prosedur, karena Anto memang serba teratur. Hampir semua hal dalam hidup Anto ada protokolnya, ada prosedurnya, dan hampir-hampir tak ada yang berubah. Namun Anto sering terlihat tidak bahagia. Keningnya sering berkerut. Mukanya ditekuk. Demikian itu ekspresi standarnya manakala berhadapan dengan situasi di luar perkiraannya. Kegandrungan pada sistem dan prosedur membuat Anto sama sekali kehilangan keluwesan menghadapi ketidakpastian. Dan serunya, sistem dan prosedur tersebut terus beranak-pinak semakin banyak. Kian hari kian tak jelas ujung pangkalnya. Misalnya, sesuatu dalam kamus Anto harus dikerjakan menurut prosedur A, namun kita ganti dengan cara B, dipastikan dia akan meledak. Jika kemudian kita bertanya, mengapa harus A dan tidak boleh B? Jawaban Anto, ya karena sudah begitu semestinya! The procedure has to be like that because it is the procedure! Macet total, ibarat jalur Pantura di musim lebaran.

Artinya, manajemen bukan sekedar proses yang sistematik dan logis. Ia juga harus ditujukan untuk mencapai pre-determined goal(s), tujuan, atau tujuan-tujuan, yang telah ditetapkan sebelum proses itu dimulai. Tujuan tersebut tentunya bukan begitu saja dipetik dari angin, melainkan diturunkan, diterjemahkan, juga secara sistematik dan logis, dari visi besar sang pemimpin. Kesadaran dan penghayatan penuh mengenai tujuan inilah yang membuat pemimpin menjadi sosok yang dinamis, yang memadukan dua sisi yang seolah paradoksal. Di satu sisi ia sangat teguh – konsisten, konsekuen, dan presisten – dengan tujuan yang ingin dicapainya. Namun di sisi lain ia sangat lentur dalam memilih dan menentukan cara – termasuk sistem dan prosedur – yang diyakininya paling mungkin membantunya mencapai tujuan tersebut. Seperti seorang pengemudi. Mungkin menjadi tidak begitu penting mempersoalkan rute mana yang diambil – sejauh tidak melanggar rambu-rambu lalu lintas tentunya – sepanjang mobil yang dikemudikan mampu memindahkan para penumpang dari tempat asal ke tempat tujuan.

Karena cara bisa lebih dari 1001 banyaknya, dibutuhkan kriteria untuk memilihnya. Ini adalah rambu manajemen berikutnya. Cara yang dipilih mestilah yang efektif dan efisien. Nah, dua istilah ini tampaknya perlu mendapatkan porsi pembahasan agak luas. Demikian seringnya kata-kata “efektif dan efisien” digunakan dalam berbagai konteks, sehingga sering maknanya menjadi rumit dan tak jelas lagi, bahkan kadang-kadang agak konyol. Misalnya, ada pejabat dalam wawancara televisi mengatakan, “cara itu memang efisien, namun tidak efektif.” Waduh! Bagaimana mungkin sesuatu bisa efisien jika tidak efektif? Meminjam istilah aljabar, efektifitas adalah necessary condition, sedangkan efisiensi adalah sufficient condition. Seluruh pilihan proses atau cara yang mampu mengantarkan kita pada tujuan disebut efektif. Dari berbagai alternatif proses atau cara tersebut, yang berbiaya paling rendah, adalah yang efisien. Namun perlu diingat, dalam menghitung biaya, bukan sekedar out-of-pocket expenses, biaya-biaya langsung yang dikeluarkan berupa uang kas. Harus diperhitungkan pula dengan cermat opportunity cost, nilai dari berbagai kesempatan dan peluang yang hilang, yang harus dikorbankan, jika kita memilih proses atau cara tersebut. Harus dikalkulasi pula eksternalitas, yaitu berbagai kerugian yang diderita oleh pihak lain atau lingkungan jika kita menjalankan cara/proses tersebut. Contoh, sebuah pabrik sedang mempertimbangkan 2 alternatif cara pengolahan limbah, X dan Y. Cara X lebih mahal dibandingkan cara Y. Namun jika menggunakan cara Y yang lebih murah, limbah yang dihasilkan masih belum sepenuhnya aman bagi lingkungan. Jika demikian, pada saat menghitung biaya yang terkait dengan cara Y, harus diperhitungkan pula nilai kerugian yang timbul dari kerusakan lingkungan akibat limbah yang belum sepenuhnya aman tersebut. Dan jika itu dilakukan bisa jadi cara X lebih efisien, walaupun biaya langsungnya lebih mahal dibandingkan Y. [bersambung]

Komentar bertahan »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.